cerput #1

Saat Kuputuskan Untuk Berjilbab

“Ya ampun.. kok bisa ya, bun?” setelah kaget aku melihat berita di salah satu stasiun televisi ada seorang gadis ditemukan tewas membusuk di tengah sawah dalam keadaan telanjang. Dalam hasil visum, gadis ini di bunuh yang sebelumnya telah diperkosa oleh komplotan lelaki jahat.
“Makanya, hati-hati kalau pulang malam, fla”, nasihat bunda. Aku pun mengangguk.
Belakangan ini, aku memang sering pulang malam. Karena aktivitasku yang sangat padat. Ekskul inilah, ekskul itulah, les di sinilah, les disanalah, dan sebagainya. Hampir larut. Setiap pulang ke rumah aku di antar Bilal, teman priaku. Jadi, aku tidak takut untuk sehari-hariku pulang larut malam.
“Adfla.. bangun nak! Shalat shubuh dulu”, teriak bunda dari balik pintu kamarku. “Aku sedang palang merah, Bunda”, sahutku. Tak berapa lama, terpaksa aku bangun dan mengambil handphone. Aku mengangkat telfon itu dan memulai pembicaraan.
“Kenapa sih pagi-pagi gini udah telfon?”.
“Maaf, Fla. Aku nggak bermaksud menggangu kamu, aku hanya ingin memastikan. Hari ini kita jadi nggak olahraga bareng?”
“Oya, aku hampir lupa. Pasti jadi dong, Bil. Kamu jemput aku, ‘kan?”
“Pasti! Aku akan menjemputmu sekitar pukul 6”.
“OK!”.
Setelah menutup pembicaraan dengan Bilal via telfon, aku langsung menuju kamar mandi. Belum sempat aku sarapan, Bilal sudah ada di depan rumah. Aku pun langsung menghampiri Bilal. Aku dan Bilal melesat dengan cepat menuju stadion olahraga Bima.


***
Sesampainya, tanpa pikir panjang kami langsung memulai pemanasan. Hanya 5 menit pemanasan, dilanjutkan lari-lari kecil mengitari stadion Bima. Saat Bilal melesat jauh di depanku. Aku pun tertinggal dan sendirian. Tak ada orang yang aku kenal selain Bilal, mungkin. Beberapa meter setelah Bilal meninggalkanku, ada seorang pemuda menghampiriku. Dia cukup tampan. Tak kusangka, dia mengajakku berkenalan. Jantungku berdebar lebih kencang.
“Hai! Namaku Egi, kamu?”
Aku berhenti berlari dan menjawab pertanyaan pemuda itu, “Hai juga. Namaku Adfla”.
“Ooh.. Adfla. Nama yang bagus! Cocok dengan orangnya yang cantik”.
“Terimakasih atas sanjungannya”. Aku sangat tersipu.
“Duduk di sana aja yuk! Biar kita lebih leluasa untuk mengobrol”.
“OK!”
Di sebuah warung yang tak jauh dari stadion tersebut, kami memesan makanan dan minuman. Kami sarapan bersama dan mengobrol.
“Fla, siang ini ada janji ‘nggak?”, tanya Egi.
“Hmm.. ‘nggak tuh! Kenapa?”
“Aku mau ajak kamu jalan. Bisa ‘kan?”
“Bisa-bisa”, jawabku girang.
“Baiklah. Nanti aku akan menjemputmu sekitar jam 2 siang. Aku minta nomor handphonemu dong!”
Kami saling bertukar nomor handphone. Dengan tergesa-gesa, Egi ke depan warung itu untuk membayar sarapan kami dan pergi. Loh? Kok pergi? Gumamku dalam hati.
Aku menuju parkiran untuk mencari Bilal. Belum sampai aku ke tempat di mana motor Bilal disimpan, ada seseorang yang menepuk pundakku.
“Hey! Kemana aja sih? Kok ngilang?”, tanya seseorang di belakangku.
“Eh.. kamu toh, Bil! Habis, kamu larinya cepat sekali! Janjinya ‘kan hanya lari-lari kecil aja”, aku menggerutu.
“Kamu sih bukan lari-lari kecil. Jalan bahkan!”.
“Huh! Sudahlah, kita pulang aja. Aku udah capek”, naik ke motor Bilal.
“Nggak makan dulu?”.
“Nggak usah! Cepatlah! Aku lelah”.
“Kalau kamu sakit, jangan salahi aku ya!”.
“Iya. Aku yang tanggung sendiri”.
Dan kami pun pulang. Dalam perjalanan pulang, aku tak mengajak Bilal bicara tak seperti biasanya. Aku asyik ber-SMS ria dengan teman baruku, Egi.
***
Di rumah, aku langsung menuju ke kamarku. Untuk istirahat sejenak. Belum sempat aku membaringkan tubuhku di kasur, bunda memanggil, “Adfla.. tolong bantu bunda nak!”. Dengan cepat aku berlari menuju tempat sumber suara tersebut.
“Kenapa, bun? Aku mau tidur. Lelah dari berolahraga tadi”.
“Jam segini mau tidur? Tidak baik, fla”.
“Ya sudah. Minta tolong apa, bun?”.
“Tolong siramkan tanaman. Lalu, jemurkan cucian di belakang”.
“Tugasnya banyak banget sih, bun! huh”.
Bunda hanya menggelengkan kepala. Lalu, melanjutkan pekerjaan.
Setelah lelah bekerja, aku kembali mencoba berbaring di sofa. Beruntung, bunda tidak memanggil.
***
Pukul 12 siang, aku bangun tanpa di bangunkan. Aku panik. Jam 12? Wah, bisa terlambat nih!, teringat janji tadi pagi.
Aku mandi dan bersiap-siap. Tepat pukul 2 siang, dia menelfonku. Dia memberitahu bahwa dia sudah berada di depan jalan rumahku.
Yakin dengan penampilan yang cantikini, aku langsung menuju tempat di mana Egi menunggu.
“Hendak kemana, Nak?”, tanya bunda tiba-tiba.
“Mau main, bun”.
“Dengan siapa?”
“Bilal”
“Biasanya dia jemput kamu kalau ada janji?”
“Dia menjemputku di depan jalan sana, bun”
“Oh. Pakai celana panjang dong, fla. Supaya aman dan tidak ada yang usil melihat kakimu yang indah”.
“Nyaman beginilah, bun! Pergi dulu ya, bun. Mau nitip oleh-oleh apa, bun?”.
“Bunda minta kamu pulang dengan selamat dan tak kurang sesuatu apapun”
“Makanan apa tuh, bun?”
“Kamu ini”
“Siap, bun!”
Aku berlari kecil menuju tempat di mana Egi menunggu. Tanpa pikir panjang, Kami langsung melesat cepat meninggalkan tempat itu.

***
Di sebuah mall, tempat yang kami kunjungi. Egi mengajakku makan siang di sebuah resto di mall besar tersebut. Aku tak akan menolak, karena aku memang lapar.
“Sekarang kita kemana nih?, tanyaku kepada Egi.
“Mau kamu?”
“’Kan kamu ynag ngajak aku jalan!”
“Kita ke taman kota aja yuk!”
“Aku sih ikut aja deh”
Dan kami pun langsung meluncur ke taman kota.
“Kok tamannya sepi, gi? Padahal hari minggu”
“Mungkin orang-orang itu baik. Membiarkan kita hanya berdua. Biar lebih romantis”
Aku hanya tersipu dan tidak melanjutkan percakapan dengan Egi.
Sekarang, aku telah ada di dekapan Egi. Dia berbaring di rerumputan. Dan menarikku untuk ikut berbaring bersamanya.
“Langit hari ini cerah ya? Secerah wajahmu”
“Jagom kamu, gi!”
“Maksudnya?”
“Jago gombal!”
“Hahahaha”
“Hahahaha”
“Bisa aja kamu”
“Hihihi”

Kami bersenda gurau, tertawa bersama. Dan saat aku merasa lelah terawa bersamanya, aku tertidur.
Tak begitu lama, aku terbangun. Lesu. Kaos yang kupakai robek. Rambutku berantakan. Egi? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi? Apa yang telah ia perbuat? Banyak sekali tanya dalam otakku.
Tak terasa air mataku meleleh cepat. Pikiranku tak karuan. Aku ingin pulang.
***
Dengan tampang lesu, aku sampai di rumah. Berusaha keras aku berlari menuju kamar agar bunda tak tahu keadaanku sekarang. Aku mengunci pintu kamarku. Aku memojokkan diri dan menangis tanpa henti. Terdengar suara bunda memanggilku berulang-ulang kali. Meminta aku membukakan pintu. “Adfla, sudah pulang, nak? Kenapa dikunci pintunya? Sedang apa, nak?”, begitu banyak pertanyaan yang berasal dari balik pintu itu. Namun, tak aku jawab pertanyaan itu. Satupun. Aku takut. Aku diam. Membisu. Otakku, memutar kembali kejadian sore itu. Aku tak mampu bangkit dari duduk. Aku tak kuasa menahan air mata ini.
Terdengar kembali suara bunda memanggilku. “Adfla, buka dong sayang. Makan dulu, nak!”. Tak satupun kata yang aku ucapkan. “Adfla, sedang apa di dalam? Kalau ada masalah, cerita sama bunda”.
Aku takut untuk menceritakannya bunda. Atau bahkan aku tak bisa menceritakannya karena aku hanya akan sibuk menangis. Memang aku yang salah, bunda. Aku tak menuruti nasihatmu, sahutku dalam hati. Sungguh, tak kuat untukku mengucap satu kata saja. Entah mengapa, aku pun tak mau mencobanya. Yang teringat hanya kejadian sore itu.
4 hari saja aku bertahan di dalam kamar yang sepi. Hanya duduk. Tak berbuat apa-apa. Tak kuasa menahan beban ini sendiri, aku mencoba untuk berteriak. Berhasil! Dan bunda pun menghampiriku. “Nak, buka dong sayang. Bunda..”, terdengar suara bunda berubah parau. Mungkin bunda menangis.
Dengan nyali yang ciut, aku bangkit dan membuka pintu kamarku. Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluk bunda. Kami menangis dalam dekapan. Aku memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada bunda. “Kita ke rumah sakit. Supaya jelas semuanya. Ya?”, ajak bunda. Aku hanya mengangguk.
Setelah di periksa, aku dan bunda menunggu hasilnya. Cukup lama kami menunggu, surat hasil visum pun kami terima. Aku memberanikan diri untuk membuka surat itu. Aku bukaperlahan. Tanganku gemetar.
Meledak tangisku saat aku membaca kata ‘negatif’ pada surat tersebut. Aku memeluk bunda. Namun, kali ini dengan senyum dan tangis haru.
“Alhamdulillah. Sujud syukur atas kebesaran Allah, Nak”. Aku mengangguk kencang.
***
“Aku mau berubah, bunda. Maafkan aku. Aku janji akan mendengar dan melaksanakan perintahmu”, kataku sambil sujud kepada bunda. “Bunda sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf pada bunda”, sahut bunda sembari tersenyum. Aku memikirkan sesuatu yang dapat merubahku. Dan saat kuputuskan untuk berjilbab, bunda menyetujuinya.
“Bunda, antar aku belanja jilbab dan baju muslimah ya”. Bunda menggangguk. “Aku tak mau pakai ini lagi. Aku mau buang pakaian ini”. Bunda hanya tersenyum dan pergi meninggalkan aku sendiri di kamar.
Saat kembali, bunda membawa kardus yang berisi baju muslimah.
“Ini baju milik bunda saat bunda seumurmu. Sudah bunda niatkan, baju-baju ini untuk anak perempuan bunda kelak. Dan sekarang, pakailah ini, Nak”
“Terimakasih, bunda”.
Aku kembali larut dalam pelukan seorang bunda yang sangat aku sayangi dan cintai.
Aku coba memakai baju dan jilbab bunda.
“Bunda, lihat! Aku cantik mengenakan jilbab ini”.
-puput-

#cerpen fiktif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kami sang juara :D

bau kentut?

Cinta datang dari “yang terbiasa”