untuk 19 Mei 2011
dua peristiwa yang menjadi alasan kami untuk membasahi pipi denagn air mata haru yang penuh kenangan.
Perpisahan, bukanlah akhir, kawan! Saat kami menghadiri acara perpisahan kakak kelas kami, kami melihat mereka menangis. menangis karena akan meninggalkan sekolah tercinta ini dan kenangan bersama teman-teman saat belajar di SMA Negeri 4 Cirebon.
tetapi, ada yang paling akhir dari perpisahan. kalian tau? yang menjadi akhir adalah kematian. Ya, sangat menyedihkan memang mendengar kabar buruk di saat seperti ini. dua kali dada kami tertusuk. di tengah acara, seorang guru mengabarkan bahwa teman kamai yang bernama Tito Sulistio meninggal dunia karena kecelakaaan saat menuju ke tempat acara perpisahan di Hotel Zambrud. Innalillahi wa innailaihi raaji'uun.. sontak kami tercengang dan menangis hebat! dia kawan kami. sungguh awalnya kami tidak percaya mendengar kabar tak sedap itu. namun ternyata isu tersebut bukan lelucon.
kami memutuskan langsung ke rumah duka. dan benar saja, dia sudah terbaring tanpa nyawa. dada kami sesak! begitu juga pasti yang dirasakan adik kembarnya, Tito Sulistomo. Ya Allah, mengapa dia begitu cepat maninggalkan kami? Kami hanya meminta kepada-Mu agar ia ditempatkan di sisi-Mu Ya Allah. Aamiin..
Perpisahan, bukanlah akhir, kawan! Saat kami menghadiri acara perpisahan kakak kelas kami, kami melihat mereka menangis. menangis karena akan meninggalkan sekolah tercinta ini dan kenangan bersama teman-teman saat belajar di SMA Negeri 4 Cirebon.
tetapi, ada yang paling akhir dari perpisahan. kalian tau? yang menjadi akhir adalah kematian. Ya, sangat menyedihkan memang mendengar kabar buruk di saat seperti ini. dua kali dada kami tertusuk. di tengah acara, seorang guru mengabarkan bahwa teman kamai yang bernama Tito Sulistio meninggal dunia karena kecelakaaan saat menuju ke tempat acara perpisahan di Hotel Zambrud. Innalillahi wa innailaihi raaji'uun.. sontak kami tercengang dan menangis hebat! dia kawan kami. sungguh awalnya kami tidak percaya mendengar kabar tak sedap itu. namun ternyata isu tersebut bukan lelucon.
kami memutuskan langsung ke rumah duka. dan benar saja, dia sudah terbaring tanpa nyawa. dada kami sesak! begitu juga pasti yang dirasakan adik kembarnya, Tito Sulistomo. Ya Allah, mengapa dia begitu cepat maninggalkan kami? Kami hanya meminta kepada-Mu agar ia ditempatkan di sisi-Mu Ya Allah. Aamiin..
Komentar
Posting Komentar
kok nggak komen sih? -_- baca tanpa komen, bagai taman tak berbunga~